
Liputan6.com, Singapura: Harga minyak mentah melemah di perdagangan Asia, Selasa (11/11). Kontrak utama New York, minyak mentah jenis light sweet untuk pengiriman Desember, turun US$ 1,48 menjadi US$ 60,93 per barel dari US$ 62,41 pada penutupan Senin di lantai perdagangan di New York Mercantile Exchange.
Minyak mentah Brent Laut Utara untuk penyerahan Desember juga turun US$ 1,85 menjadi US$ 57,23 per barel, setelah mantap pada US$ 59,08 pada Senin di London.
Kontrak New York sempat naik US$ 1,37 pada Senin, sementara Brent naik US$ 1,73 dengan sentimen terdorong harapan bahwa paket stimulus ekonomi Cina akan mengangkat permintaan energi.
Tetapi, Mike Fitzpatrick, analis dari MF Global, memperingatkan kenaikan akibat stimulus tersebut kemungkinan akan berlangsung singkat, mengingat krisis finansial global saat ini. "Begitu gelombang kejut itu reda, kenaikan harga akan sirna," katanya kepada AFP.
Cina pada Ahad lalu mengumumkan paket stimulus ekonomi senilai 4 triliun yen (US$ 586 miliar) untuk mendorong perekonomian yang melambat akibat krisis finansial global.
Raksasa Asia itu adalah pembeli utama berbagai komoditas dan sangat membutuhkan minyak untuk memacu pertumbuhan ekonominya dalam beberapa tahun terakhir, yang menjadi faktor utama di balik kenaikan harga ke rekor tertinggi di atas 147 dolar AS per barel pada Juli.(TOZ/ANTARA)



Tidak ada komentar:
Posting Komentar